Minggu, 18 Oktober 2015

Ya Allah... jika begini akhirnya. Rasanya aku ingin tidur saja. Gak kuasa melihat ada rasa kecewa pada mereka walau aku yakin mereka tidak akan menampakkannya. Rasanya aku lelah Ya Allah... aku ingin tidur saja. Melupakan semua ketakutan yang aku rasakan. Takut mengecewakan mereka. Membuat mereka menangis. Ya Allah aku lela karena semua ini. Karena aku senidiri. Aku ingin tidur saja agar tidak merasakan kecewaan yg mungkin akan mereka rasakan...

Senin, 28 Oktober 2013

Tanda Baca Al Qur'an

Tanda Baca Al-Quran

http://belajarbacaalquran.com/tanda-baca-al-quran/

 

Harakat (Arab: حركات, dibaca harakaat) atau yang disebut juga tanda tasykil merupakan tanda baca atau diakritik yang ditempatkan pada huruf Arab untuk memperjelas gerakan dan pengucapan huruf tersebut. Dalam membaca al-quran, wajib hukumnya bagi mereka yang sudah akil baligh untuk menggunakan tanda baca alquran.

macam-macam tanda baca lainnya atau macam harakat, diantaranya adalah :
1. Fathah
Fathah (فتحة) adalah harakat yang berbentuk seperti garis horizontal kecil atau tanda petik ( ٰ ) yang berada di atas suatu huruf Arab yang melambangkan fonem (a). Secara harfiah, fathah itu sendiri berarti membuka, layaknya membuka mulut saat mengucapkan fonem (a). Ketika suatu huruf diberi harakat fathah, maka huruf tersebut akan berbunyi (-a), contonya huruf lam (ل ) diberi harakat fathah menjadi “la” (لَ ). Cara melafazkannya ujung lidah menempel pada dinding mulut

2. Alif Khanjariah
Tanda huruf ALif Khanjariah sama halnya dengan Fathah, yang juga ditulis layaknya garis vertikal seperti huruf alif kecil ( ٰ ) yang diletakkan diatas atau disamping kiri suatu huruf Arab, yang disebut dengan mad fathah atau alif khanjariah yang melambangkan fonem (a) yang dibaca agak panjang. Sebuah huruf berharakat fathah jika diikuti oleh Alif (ا) juga melambangkan fonem (-a) yang dibaca panjang. Contohnya pada kata “laa” (لاَ) dibaca dua harakat.

3. Kasrah
Kasrah (كسرة) adalah harakat yang membentuk layaknya garis horizontal kecil ( ِ ) tanda baca yang diletakkan di bawah suatu huruf arab, harakat kasrah melambangkan fonem (i). Secara harfiah, kasrah bermakna melanggar. Ketika suatu huruf diberi harakat kasrah, maka huruf tersebut akan berbunyi (-i), contonya huruf lam (ل) diberi harakat kasrah menjadi (li) (لِ).
Sebuah huruf yang berharakat kasrah jika bertemu dengan huruf “ya” (ي ) maka akan melambangkan fonem (-i) yang dibaca panjang. Contohnya pada kata ” lii ” ( لي) dibaca 2 harakat.

4. Dammah
Dammah (ضمة) adalah harakat yang berbentuk layaknya huruf ” waw “( wau) (و) kecil yang diletakkan di atas suatu huruf arab ( ُ ), harakat dammah melambangkan fonem (u). Ketika suatu huruf diberi harakat dammah, maka huruf tersebut akan berbunyi (-u), contonya huruf ” lam ” (ل) diberi harakat dammah menjadi (lu) (لُ).
Sebuah huruf yang berharakat dammah jika bertemu dengan huruf  “waw” (و ) maka akan melambangkan fonem (-u) yang dibaca panjang. Contohnya pada kata (luu) (لـُو).

5. Sukun ( hara’kat )
Sukun (سکون) adalah harakat yang berbentuk bulat layaknya huruf  “ha” (ه) yang ditulis di atas suatu huruf Arab. Tanda bacanya bila ditulis seperti huruf (o) kecil yang bentuknya agak sedikit pipih. Harakat sukun melambangkan fonem konsonan atau huruf mati dari suatu huruf, misalkan pada kata “mad” (مـَدْ) yang terdiri dari huruf mim yang berharakat sehingga menghasilkan bunyi fathah (مَ) dibaca “ma”, dan diikuti dengan huruf “dal” (دْ) yang berharakat sukun yang menghasilkan konsonan atau bunyi (d) sehingga dibaca menjadi “mad” (مـَدْ).
Harakat sukun juga misa menghasilkan bunyi diftong, seperti (au) dan (ai), cotohnya pada kata (نـَوْمُ) yang berbunyi (naum)u)) yang berarti tidur, dan juga pada kata (لَـيْن) yang berbunyi (lain) yang berati lain atau berbeda.

6. Tasydid
Tasydid ( تشديد) atau yang disebut syaddah ( شدة) adalah harakat yang bentuk hurufnya (w) yang diberi atau seperti kepala dari huruf  “sin” (س) yang diletakkan di atas huruf arab (ّ ) yang letaknya diatas suatu huruf Arab. Harakat tasydid melambangkan penekanan pada suatu konsonan yang dituliskan dengan simbol konsonan ganda, sebagai contoh pada kata ( شـَـدَّةٌ) yang berbunyi (syaddah) yang terdiri dari huruf syin yang berharakat fathah (ش) yang kemudian dibaca (sya), diikuti dengan huruf  “dal “yang berharakat tasydid fathah ( دَّ) yang menghasilkan bunyi (dda), diikuti pula dengan ta marbuta ( ةٌ) di akhir kata yang menghasilkan bunyi (h), sehingga menjadi (syaddah).

7. Tanwin
Tanwin (bahasa Arab: التنوين, “at tanwiin”) adalah tanda baca (diakritik) harakat pada tulisan Arab untuk menyatakan bahwa huruf pada akhir kata tersebut diucapkan layaknya bertemu dengan huruf nun mati.

8. Wasal
 Wasal (bahasa Arab: وصلة‎, dibaca: washlat) adalah tanda baca atau diakritik yang dituliskan pada huruf Arab yang biasa dituliskan di atas huruf alif atau yang disebut juga dengan Alif wasal. Secara ilmu tajwid, wasal berarti meneruskan tanpa mewaqafkan atau menghentikan bacaan.
Harakat wasal selalu berada di permulaan kata dan tidak dilafazkan apabila berada di tengah-tengah kalimat, namun akan berbunyi layaknya huruf hamzah apabila dibaca di awal kalimat.
Contoh alif wasal:
ٱهدنا ٱلصرط
“ihdinas shiraat”
Bacaan tersebut memiliki dua alif wasal, yang pertama pada lafaz “ihdinaa” dan “as shiraat” yang manakala kedua lafaz tersebut diwasalkan atau dirangkaikan dalam pembacaannya maka akan dibaca “ihdinas shiraat” dengan menghilangkan pembacaan alif wasal pada kata “as shiraat”.
Lihat contoh berikut dibawah ini :
نستعين ٱهدنا ٱلصرط
“nasta’iinuh dinas shiraat”
Bacaan di atas terdiri dari kata “nasta’iin”, “ihdinaa dan as shiraat”, dengan mewasalkan lafaz “ihdina” dengan lafaz sebelumnya, sehingga menghasilkan lafaz “nasta’iinuh dinaa”, dengan mewasalkan lafaz “as shiraat” dengan lafaz sebelumnya, maka akan menghasilkan lafaz “nasta’iinuh dinas shiraat”.
Alif wasal lebih sering dijumpai bersamaan dengan huruf lam atau yang disebut juga dengan alif lam makrifah pada lafaz dalam bahasa Arab yang mengacu kepada kata yang bersifat isim atau nama.
Contoh alif wasal dalam alif lam makrifah:
ٱلصرط
“as shiraat”
ٱلبقرة
“al baqarah”
ٱلإنسان
“al insaan”

9. Waqaf
Waqaf dari sudut bahasa artinya berhenti atau menahan, manakala dari sudut istilah tajwid ialah menghentikan bacaan sejenak dengan memutuskan suara di akhir perkataan untuk bernapas dengan niat ingin menyambungkan kembali bacaan. Waqaf dibagi menjadi 4 jenis, diantaranya :

- ﺗﺂﻡّ (taamm) – waqaf sempurna – yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan yang dibaca secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, dan tidak mempengaruhi arti dan makna dari bacaan karena tidak memiliki kaitan dengan bacaan atau ayat yang sebelumnya maupun yang sesudahnya.

- ﻛﺎﻒ (kaaf) – waqaf memadai – yaitu mewaqafkan atau memberhentikan pada suatu bacaan secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, namun ayat tersebut masih berkaitan makna dan arti dari ayat sesudahnya.

- ﺣﺴﻦ (Hasan) – waqaf baik – yaitu mewaqafkan bacaan atau ayat tanpa mempengaruhi makna atau arti, namun bacaan tersebut masih berkaitan dengan bacaan sesudahnya.

- ﻗﺒﻴﺢ (Qabiih) – waqaf buruk – yaitu mewaqafkan atau memberhentikan bacaan secara tidak sempurna atau memberhentikan bacaan di tengah-tengah ayat, wakaf ini harus dihindari karena bacaan yang diwaqafkan masih berkaitan lafaz dan maknanya dengan bacaan yang lain.

Tanda-tanda waqaf
- Tanda mim ( مـ ) disebut juga dengan Waqaf Lazim. yaitu berhenti di akhir kalimat sempurna. Wakaf Lazim disebut juga Wakaf Taamm (sempurna) karena wakaf terjadi setelah kalimat sempurna dan tidak ada kaitan lagi dengan kalimat sesudahnya. Tanda mim ( م ), memiliki kemiripan dengan tanda tajwid iqlab, namun sangat jauh berbeda dengan fungsi dan maksudnya.
- tanda tho ( ﻁ ) adalah tanda Waqaf Mutlaq dan haruslah berhenti.
- tanda jim ( ﺝ ) adalah Waqaf Jaiz. Lebih baik berhenti seketika di sini walaupun diperbolehkan juga untuk tidak berhenti.
- tanda zha ( ﻇ ) bermaksud lebih baik tidak berhenti
- tanda sad ( ﺹ ) disebut juga dengan Waqaf Murakhkhas, menunjukkan bahwa lebih baik untuk tidak berhenti namun diperbolehkan berhenti saat darurat tetapi tidak mengubah makna. Perbedaan antara hukum tanda zha dan sad adalah pada fungsinya, dalam kata lain lebih diperbolehkan berhenti pada waqaf sad
- tanda sad-lam-ya’ ( ﺻﻠﮯ ) merupakan singkatan dari “Al-wasl Awlaa” yang bermakna “wasal atau meneruskan bacaan adalah lebih baik”, maka dari itu meneruskan bacaan tanpa mewaqafkannya adalah lebih baik
- tanda qaf ( ﻕ ) merupakan singkatan dari “Qeela alayhil waqf” yang bermakna “telah dinyatakan boleh berhenti pada wakaf sebelumnya”, maka dari itu lebih baik meneruskan bacaan walaupun boleh diwaqafkan.
- tanda sad-lam ( ﺼﻞ ) merupakan singkatan dari “Qad yoosalu” yang bermakna “kadang kala boleh diwasalkan”, maka dari itu lebih baik berhenti walau kadang kala boleh diwasalkan.
- tanda Qif ( ﻗﻴﻒ ) bermaksud berhenti! yakni lebih diutamakan untuk berhenti. Tanda tersebut biasanya muncul pada kalimat yang biasanya pembaca akan meneruskannya tanpa berhenti.
- tanda sin ( س ) atau tanda Saktah ( ﺳﮑﺘﻪ ) menandakan berhenti seketika tanpa mengambil napas. Dengan kata lain, pembaca haruslah berhenti seketika tanpa mengambil napas baru untuk meneruskan bacaan.
- tanda Waqfah ( ﻭﻗﻔﻪ ) bermaksud sama seperti waqaf saktah ( ﺳﮑﺘﻪ ), namun harus berhenti lebih lama tanpa mengambil napas
- tanda Laa ( ﻻ ) bermaksud “Jangan berhenti!”. Tanda ini muncul kadang-kala pada penghujung maupun pertengahan ayat. Jika ia muncul di pertengahan ayat, maka tidak dibenarkan untuk berhenti dan jika berada di penghujung ayat, pembaca tersebut boleh berhenti atau tidak.
- tanda kaf ( ﻙ ) merupakan singkatan dari “Kathaalik” yang bermakna “serupa”. Dengan kata lain, makna dari waqaf ini serupa dengan waqaf yang sebelumnya muncul.
- tanda bertitik tiga ( … …) yang disebut sebagai Waqaf Muraqabah atau Waqaf Ta’anuq (Terikat). Waqaf ini akan muncul sebanyak dua kali di mana-mana saja dan cara membacanya adalah harus berhenti di salah satu tanda tersebut. Jika sudah berhenti pada tanda pertama, tidak perlu berhenti pada tanda kedua dan sebaliknya.

Sabtu, 26 Oktober 2013

AVAILQ





sekarang aku member AVAIL, tapi aku gak tau cara bisnisnya. memang si, tadinya aku daftar jadi member bukan karena ingin berbisnis, tapi karena ingin sehat aja. tapi dipikir- pikir lagi, ko orang-orang bisa sukses menjalani bisnis ini, sedang aku???

apa nasibku bukan seorang pebisnis yaa???
apa alu hanya diciptakan untuk menjadi seorang guru???
tapi ya allah, aku ingin sukses biar bisa membantu orang tuaku.....


#my WISH

AL QUR'AN

(just for my reading)
 http://matasalman.com/mengintip-sejarah-kodifikasi-al-quran/


Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)

Sebagian besar dari kita mungkin sudah tahu, kapan dan bagaimana Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun tahukah kita bagaimana Al-Quran itu disusun padahal ia turun secara terpisah, antara satu ayat dengan ayat lainnya? Lantas, siapakah orang pertama yang menyusun Al-Quran sehingga ia ada seperti yang kita miliki saat ini?

Proses pencatatan, pengumpulan dan pembukuan Al-Quran dapat kita ringkas dengan istilah kodifikasi Al-Quran. Sebagian besar ‘ulama’ berpendapat, sejarah kodifikasi Al-Quran terjadi dalam tiga marhalah atau masa. Marhalah yang pertama ialah pada masa hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, marhalah kedua ialah pada masa khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dan marhalah ketiga pada masa khalifah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu.

Marhalah Pertama
Pada marhalah pertama, penjagaan Al-Quran sangat ditekankan pada hafalan oleh sahabat. Selain itu juga ditulis dengan alat tulis seadanya. Beberapa yang digunakan saat itu ialah pelepah kurma, batu tipis, tulang-tulang pipih, dan kulit binatang. Al-Quran ditulis oleh para penulis wahyu yang ditunjuk langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk menjaga keasliannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah kalian menulis dari aku. Barangsiapa yang telah menulis dari aku selain Al-Quran hendaknya ia menghapusnya.” (HR. Muslim)
Perlu diketahui bahwa pada masa ini Al-Quran belum dihimpun dan disusun dalam satu mushaf meskipun pada saat itu sudah banyak sahabat yang menghafalnya. Terkait hal ini, Prof. Dr. Shalah Shawi menerangkan bahwa pada saat itu Rasulullah senantiasa menunggu turunnya wahyu dari satu waktu ke waktu yang lain. Beliau juga menunggu adanya nasikh (penghapusan) sebagian hukum-hukum atau bacaan Al-Quran. Alasan terakhir adalah agar susunan ayat-ayat Al-Quran masih dapat diubah apabila turun wahyu yang baru, karena beliau senantiasa mengisyaratkan tempat masing-masing ayat terhadap ayat-ayat yang lain.

Marhalah Kedua
Marhalah kedua ialah pada masa khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Pada masa ini terjadi perang Yamamah, yaitu suatu perang yang mengakibatkan para penghafal Al-Quran gugur. Akibat peristiwa tersebut ‘Umar radhiyallahu ‘anhu merasa khawatir akan kehilangan sebagian besar ayat-ayat Al-Quran akibat wafatnya para huffazh.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, ketika itu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata, “Sesungguhnya peperangan sengit terjadi di hari Yamamah dan menimpa para qurra’ (para huffazh). Dan aku merasa khawatir dengan sengitnya peperangan terhadap para qurra (sehingga mereka banyak yang terbunuh) di negeri itu. Dengan demikian akan hilanglah sebagian besar Al-Quran.”
Khalifah abu bakar radhiyallahu ‘anhu mulanya ragu dan takut karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan ini sebelumnya. ‘Umar radhiyallahu ‘anhu senantiasa mengulang usulannya tersebut kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, hingga suatu saat Allah melapangkan dada Abu bakar untuk sependapat dengannya.
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu lalu mengutus seorang shahabat untuk memanggil Zaid bin Tsabit. Beliau mengatakan,  “Engkau laki-laki yang masih muda dan cerdas. Kami sekali-kali tidak pernah memberikan tuduhan atas dirimu, dan engkau telah menulis wahyu untuk Rasulullah saw sehingga engkau selalu mengikuti Al-Qur`an, maka kumpulkanlah ia.”
Zaid radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Demi Allah seandainya kalian membebaniku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, maka sungguh hal itu tidaklah lebih berat dari apa yang diperintahkan kepadaku  mengenai pengumpulan Al-Quran.”
Zaidpun berangkat untuk melaksanakan tugas mulia ini. Pengumpulan Al-Qur`an ini, ia lakukan tidak berdasarkan hafalan para huffazh saja, melainkan dikumpulkan terlebih dahulu apa yang tertulis di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lembaran-lembaran Al-Quran tersebut tidak diterima, kecuali setelah disaksikan dan dipaparkan di depan dua orang saksi yang menyaksikan bahwa lembaran ini merupakan lembaran yang ditulis di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tidak mengambil selembarpun kecuali jika lembaran itu diperoleh secara tertulis dari salah seorang sahabat dan ayat di dalamnya harus dihafal oleh salah seorang dari kalangan sahabat.
Mushaf-mushaf yang telah terkumpul lalu disimpan di rumah khalifah Abu bakar radhiyallahu ‘anhu hingga beliau wafat. Mushaf-mushaf ini kemudian dipindahkan dan disimpan di rumah khalifah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu hingga beliau wafat. Terakhir, mushaf-mushaf ini disimpan di rumah ummul-mukminin Hafshah radhiyallahu ‘anha sesuai wasiat dari khalifah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.
’Ali radhiyallahu ‘anhu bercerita tentang Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu terkait pengumpulan Al-Quran ini, ia berkata, “Manusia yang paling besar jasanya terhadap al-quran ialah Abu bakar. Semoga rahmat Allah untuk Abu bakar, dialah yang pertama kali mengumpulkan kitab Allah subhanahu wa ta’ala.”

Marhalah Ketiga
Marhalah ketiga ialah pada masa khalifah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu. Pada masa ini kaum muslimin mulai banyak yang berselisih tentang Al-Quran. Disebutkan bahwa di wilayah-wilayah yang baru dibebaskan, sahabat nabi yang bernama Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu terkejut melihat adanya perbedaan dalam membaca Al-Quran hingga satu kaum mengkafirkan yang lain. Hudzaifah melihat penduduk Syam membaca Al-Quran dengan bacaan Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, sebuah bacaan yang tidak pernah didengar oleh penduduk Irak. Begitu juga ia melihat penduduk Irak membaca Al-Quran dengan bacaan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sebuah bacaan yang tidak pernah didengar oleh penduduk Syam. Perbedaan bacaan tersebut juga terjadi antara penduduk Kufah dan Bashrah.
Dalam shahih Bukhari disebutkan, Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu segera mendatangi khalifah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sadarkanlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Al-Quran sebagaimana perselisihan antara Yahudi dan Nasrani.”
‘Utsman radhiyallahu ‘anhu menerima usulan tersebut. Ia lalu mengirimkan orang untuk meminjam mushaf kepada Hafshah radhiyallahu ‘anha untuk disalin.  Ia memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin al-‘Ash, dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalinnya ke dalam beberapa mushaf.
Setelah selesai disalin, khalifah ‘Utsman dan para sahabat kemudian berijtihad untuk menyusun Al-Quran sesuai dengan nash yang ia dapatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma’ para sahabat.
Mushaf yang telah tersusun kemudian dicopy dan dikirimkan tujuh kota, yaitu Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah dan Madinah. Mushaf inilah yang dikenal dengan mushaf ‘Utsmani. Khalifah lalu memerintahkan kepada seluruh negeri agar umat muslim menggunakan mushaf ‘Utsmani. Ia juga memerintahkan semua mushaf yang bertentangan dengan mushaf  ‘Utsmani dibakar.
‘Utsman radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Manusia diwajibkan untuk memakai mushaf ini saja, supaya tidak ada perpecahan dan perselisihan.”

Al-Quran Senantiasa Terjaga
Allah subhanahu wa ta’ala telah menjamin bahwa siapapun, meski manusia dan jin berkumpul, mereka tidak akan bisa membuat yang serupa dengan Al-Quran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.’” (Al-Isra’: 88)
Jangankan satu Al-Quran, sepuluh surat, satu surat, atau bahkan satu ayat tak seorangpun yang mampu membuatnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat-surat yang lain,
Bahkan mereka mengatakan: Muhammad telah membuat-buat Al-Quran itu, Katakanlah: (Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah-surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.’” (Hud: 13)
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.(Al-Baqarah: 23)
Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar. (Ath-Thur: 34)
Demikianlah, tidak perlu diragukan lagi bahwa Al-Quran yang sampai kepada kita sekarang adalah benar-benar yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasul-Nya, tidak kurang dan tidak bertambah sedikitpun. Kita harus yakin bagaimanapun upaya kaum kafir berusaha mengubah isi dan merusak kandungan Al-Quran, Allah tetap menjamin bahwa Al-Quran akan tetap terjaga hingga hari kiamat. Semoga pengetahuan yang sedikit ini dapat meningkatkan iman kita kepada kitab Allah subhanahu wa ta’ala.

Istajib My Du'a ya ALLAH......


1. Mondok Qur'an lagi, biar tambah lanciiiiirrrrr
2. Kuliyah lagi dengan biaya sendiri, but I have no working except as a teacher :(


Allah..... terlalu beratkah pintaku ini, padahal aku sendiri belum tentu bisa untuk membagi waktu
               terlalu neko-neko kah aku, padahal "otakku" ini pas-pasan
               terlalu banyakkah pintaku, padahal aku tahu biaya kuliyah itu tidak sedikit 

Saat ini, tekadku hanya satu, yaitu membahagiakan Ummi abahku. Keinginan beliau agar aku bisa melanjutkan sekolahku menjadi "penyemangat utama" aku untuk sekolah lagi, walau disisi lain melanjutkan kuliyah adalah bukan pilihan pertamaku setelah lulus dari strata 1. Melancarkan hafalanku adalah cita2 pertama aku, namun suratan menentukan lain, dan aku memilih untuk mengikuti permintaan beliau, karena aku yakin apa yang telah di ridloi beliau itulah pasti yang menjadi yang terbaik untukku. 

Dan saat ini, aku menjalani aktifitasku sebagai "ustadzah" di pesantren waktu aliyah dulu, sambil sesekali menjadi "santri kalong" ke pondok qur'an yang tidak jauh dari pondok tempat aku tinggal untuk men"takrir" hafalanku.

 Dengan berbagai kesibukan aku jalani, sedih ketika aku ingat bahwa "aku ini penghafal al qur'an", tapi sikapku tidak mencerminkan aku sebagai penghafal al qur'an. aku sibuk dengan pekerjaanku mengajar dan berorganisasi bahkan kegiatan "tahfidz" pun aku jalani sebagai "penyimak" santri santri yang mau menghafal al qur'an. 

lantas bagaimana dengan hafalanku sendiri???

Disela waktu kosongku, aku malah lebih banyak beristirahat. walau mungkin orang yang melihatku akan menilai bahwa aku terlihat "nyaman-nyaman" saja, namun hatiku berkecambuk menjadi satu, sedih sedih dan sedih, bahkan ada sedikit penyesalan.

asstaghfirullah.........
Tidakkah aku cukup bersyukur dengan apa yang ada padaku sekarang?? dikala yang lain bingung mencari pekerjaan tapi aku sendiri tanpa keringat bisa langsung mengajar. 

tapi bukan ini yang aku inginkan????

astaghfirullah......aku yakin ini pilihan terbaikku, toh yang penting masih di pondok dan aku bisa mentakrir hafalanku sendiri.

dan tentang "lanjutan kuliyahku"... aku sendiri merasa takut untuk menjalaninya, karena masalahnya adalah ada pada ekonomi. walau dukungan penuh dari ummi abahku, tapi tetap saja aku harus berfikir lebih dewasa lagi, adikku masih ada 3 orang yang kuliyah dan jika aku melanjutkan kuliyahku bukankah aku akan lebih membebani beliau???
 
"ntos tik, mumpung abah masih ada, masih sanggup membiayai, sok kuliyah deui, cuma 2 taun ieuh" masih teringat jelas kata ummiku ketika minggu lalu aku pulang kerumah hingga air mataku terbenung karena haru, besar sekali harapan beliau untuk mempunyai seorang anak yang melanjutkan kuliyah sampai S2. Ada sedikit rasa senang menyelinap di kalbu karena aku mendapatkan kesempatan untuk sekolah lagi, namun perasaan sedihpun aku rasakan ketika aku berfikir bahwa "kuliyahku akan menambah beban abah ummiku", namun kata "mumpung abah masih ada" dari ibuku  itu mendorong aku lagi untuk "jadi" melanjutkan sekolahku. aku takut ya Allah Engkau mengambil nyawa beliau sebelum aku mengabulkan permintaan beliau, dan aku ingin sekali semasa hidupku bisa membahagiakan ummi abahku dengan keberhasilanku, untuk itu ya ALLAH..... BERKAHILAH BELIAU KESEHATAN DAN UMUR YANG PANJANG, RIZKI YANG HALAL SERTA BERKAH, Mudahkanlah jalanku untuk melanjutkan kuliyahku nanti, ridhoilah aku ya ALLAH untuk kuliyah lagi, karena atas hanya dengan idzinMu aku bisa menjalani semua ini....



Senin, 15 April 2013

mimpi



Sebuah  misteri  Ilahi yang tidak bisa kita hindari
Waktu yang datang dan pergi                                                  
Mengiringi langkah kita yang  tak pasti
Namun selalu berharap pada jalan Ilahi Robby yang hakiki

Hati yang gelisah di landa rindu yang tak menentu
Sakit yang terasa di saat sadar semua telah berlalu
Dhohir yang kini rapuh  dan terbelenggu
Bathin yang tersiksa bagai jiwa yang membeku

Mungkin ini yang dinamakan takdir Ilahi
Aku, kamu, dia, kita semua tidak akan pernah tahu
Sampai kapan dan dimana ia akan berhenti
Mengiringi perjalanan hidup kita yang berliku-liku

Berharap ini hanya sebuah mimpi
Dan esok bangun dengan cerita yang jauh lebih baik dari mimpi
Sehingga apa yang  terlihat dalam mimpi
Hanya benar benar sebuah mimpi
 

Sabtu, 13 April 2013

night of sunday, aprl 14, 2013



                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   Aku Terperangkap Oleh Waktu

Dimana Waktu Mempermainkan Perasaanku

Aku Tebus Dengan Arti Kesetiaan

Manusia Tercinta Itu Pergi Membawa 2 Sisi  Hati

Terbelah Menyakitkan
Teriris Pedih
Menyisakkan Pedih

Aku Bertahan Dalam Simpul Keikhlasan

Berharap Indah Pada Akhir Cerita

                              (Broken heart)

Ketika hati terkoyak separuhnya setahun yang lalu,
Aku bersumpah untuk menguburnya dalam- dalam .
Berjanji damai meski tak akan pernah kuasa melupakan..

Tere Liye: sepotong hati yang baru