Masih
Masih ku menangis. Menangis lagi ketika ku buka kembali lembaran tentang
kisah laluku yang kerap mengusik.
Masih ku tertegun. Tertegun lagi ketika membaca lembaran2 itu yang sudah
lama ku tutup.
Masih ku menahan. Menahan isak ketika ku membacanya dan hanya ada butiran
air mata membendung yang langsung ku usap agar tidak ada seorang pun yang tahu
apa yang aku rasakan saat itu.
Masih ku sakit. Sakit karena ingat akan hal itu dan meninggalkan luka yang
terlalu dalam.
Dan masih mengingatnya. Mengingat nama dan bayangnya.
Saat ini.......
Aku tidak berharap apapaun darinya, bahkan tidak ada ‘SMS’ darinya pun
merupakan satu ketenangan untukku.
Namun yang ku harapkan hanyalah perubahan yang ada padanya, yang dy lakukan
oleh dirinya sendiri bukan hanya dari kata2nya saja.
Bukan perubahan untukku, tapi perubahan untuk dirinya sendiri dan untuk
masa depannya sendiri.
Aku tidak peduli dengan siapa dy akan mengakhiri masa lajangnya kelak, tapi
yang ku inginkan hanyalah “perubahan” yang ada pada dirinya.
Walau rasa sakit ini masih terasa karenanya, namun doa yang ku panjatkan di
setiap sepertiga malamku atau bahkan di setiap sholat lima waktuku tak lupa ku
selipkan namanya.
Bukan berdoa untuk meminta dy kembali....
Namun doa agar dy baik dan lebih baik lagi, karena aku tahu sebenarnya dia
baik....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar